10/01/13

2. TB -Tekanan Batin

Ternyata ga semudah itu saya bisa menerima kalo saya memang kena TB paru.

It's Okay, kalo saya harus melakukan pengobatan selama 6 bulan. Tapi ternyata banyak faktor lain yang bikin tertekan. yep. tekanan batin. Dibutuhkan mental yang super untuk bisa melewatinya. dan sampe sekarang saya belum bisa melewati dengan sempurna.

Seperti yang udah saya bilang, TB paru itu penyakit infeksi yang sangat mudah menular, apalagi indonesia merupakan negara endemis TB paru. Dengan kondisi seperti itu, sebenernya siapa pun bisa terkena. Tapi paradigma yang sudah tertanam di masyarakat (bahkan praktisi kesehatan) bahwasanya TB ini adalah penyakit yang terjadi pada kelompok masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi rendah, yang identik dengan tingkat pendidikan rendah dan juga tingkat higiene nya juga rendah.

Jujur, saya malu terkena TB paru, karna pemikiran saya juga hampir sama dengan orang kebanyakan. Mungkin alasan ini juga yang bikin saya selalu denial, selain alasan harus pengobatan selama 6 bulan. Dan sudah dapat dipastikan, saya akan dikucilkan dari lingkungan karna mengidap penyakit ini. Kenapa? karna saya hidup dan bersosialisasi dengan orang2 yang berkecimpung di bidang kesehatan, dan mereka tentu tau pasti ttg penyakit yang sangat mudah menular ini. karna mereka juga tidak mau tertular.

Saya tau perasaan mereka yang tidak mau tertular dengan penyakit ini, karna itu juga yang saya rasakan sebelum mengidap penyakit ini. Maka dengan otomatis saya berusaha untuk tidak menularkannya. Karna penularannya melalui droplet yang terhirup. Ya, minimal saya ga berbagi pakai alat2 makan, trus saya juga menutup mulut dan hidung ketika batuk/bersin (walau sebenernya setelah klimaks batuk darah itu, saya ga pernah ada gejala lagi, batuk darah kemarin merupakan gejala terakhir yang saya alami). Bahkan saya juga takut kalo mesti makan diluar, berbgai pakai dengan orang banyak. Atau ada teman berkunjung ke kostan, dan kadang saya bingung untuk menjamu makan/minum dengan alat makan yang saya biasa pakai sehari-hari. Selain saya yang ga enak hati, mungkin mereka juga ga mau pake karna takut ketularan.

Well, beberapa teman mungkin tau kondisi saya ini, diantara mereka ada yang secara tidak sadar sesuai dengan praduga saya diatas. Terlihat jaga jaraknya dengan saya, ga tau bercanda atau bukan, tapi menyakitkan. Kalo boleh berharap, saya juga ga mau mengidap sakit ini, dan saya juga sampe sekarang belum tau, darimana sumber infeksinya, karna penularan penyakit ini juga harus secara intens alias terus menerus dalam beberapa waktu. Sedangkan orang-orang disekitar saya, yang sering bersama-sama dengan saya terlihat sehat walafiat. Atau mungkin bakteri ini sudah menjelma sedemikian rupa, sehingga cukup dengan satu kali tertular, kita sudah dapat terkena penyakit ini. Sungguh masih menjadi misteri bagi saya.

Tapi dilain pihak, tidak sedikit juga teman-teman yang memberikan support buat saya. Saya sangat menghargainya. trima kasih kawan, smoga kalian selalu diberikan kesehatan lahir dan batin. :")

0 comment:

Posting Komentar